Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Jatuh Cinta Diam-Diam, Jatuh Cinta Yang Sulit Hilang Dari Memori Seseorang


Kalian pasti pernah nih yang namanya jatuh cinta, iya nggak? Apalagi bagi kalian yang masih usia remaja jatuh cinta adalah hal wajar yang sering dirasakan. Jatuh cinta itu udah seperti kebutuhan dalam hidup, karena semua orang pasti memiliki cinta. Entah itu cinta dengan keluarga, sahabat, teman atau lawan jenis kita.

Namun pernah nggak sih kalian jatuh cinta sama seseorang tapi secara diam-diam dan tidak ada lagi yang tau kecuali kita sendiri. Bahkan keluarga dan temanpun sengaja tidak diberi tahu karena banyak yang berfikir kalau urusan cinta nggak harus semuanya tahu, karena hal itu malah akan mempercepat lawan jenis kita mengetahui jika kita mencintainya. Hal ini biasanya terjadi pada remaja yang masih malu-malu mengungkapkan jika dirinya itu sedang jatuh cinta.

Nah, tapi tau nggak sebenarnya orang yang cinta secara diam-diam akan terlihat sedikit aneh, entah dari tingkahnya atau terkadang juga bisa dilihat dari pandangannya ketika melihat orang yang dicintainya. Biar nggak penasaran ini nih ciri-ciri orang yang jatuh cinta tapi secara diam-diam :

Ketika bertemu atau berpapasan akan sesegera mungkin untuk menghindar. Hal ini terjadi karena secara tiba-tiba perasaan malu dan deg-deg an dalam diri kita akan muncul, sehingga membuat kita malu untuk melihatnya walaupun hanya sebentar. Terkadang, kita juga akan lebih memilih jalan lain daripada harus bertemu dengan orang yang kita suka, karena ditakutkan kita malah akan salah tingkah didepannya.

Tak berani menatap wajahnya saat berbicara langsung. Mungkin, ucapan kita bisa bohong mengatakan kalau kita tidak suka dengan orang yang ada di depan kita. Namun pandangan mata tidak akan pernah bisa berbohong, jadi lebih baik tidak menatapnya daripada sandiwaranya selama ini akan terbongkar.

Ingin cepat-cepat pergi ketika berbicara langsung. Entah kenapa lidah akan teras kaku, jantung berdetak lebih kencang dari biasanya ketika orang yang kita suka menanyakan sesuatu atau sekedar ingin ngobrol dengan kita. Disitulah terkadang kita mencari beribu alasan agar kita bisa cepat pergi dari hadapannya.

Sangat bahagia setelah melihat senyuman orang yang kita suka. Meskipun terkadang senyuman itu ditujukan untuk  orang lain, namun karena kita melihatnya tersenyum itu sudah sangat cukup untuk membuat kita sangat bahagia. Apalagi ketika kita mendapatkan sapaan senyum dari orang yang kita suka, wah pasti nggak akan bisa tidur tuh hehehe.

Bersikap cuek ketika ada teman kita yang sedang ngobrol tentang orang yang kita suka. Padahal kita terdiam bukan karena tidak mau tau, tapi karena kita mendengarkan baik-baik agar kita tau banyak tentang orang yang kita suka.

Namun cinta secara diam-diam akan lebih indah, jika kita terus mendoakan yang terbaik untuk orang yang kita suka. Meskipun kita nggak tau orang yang kita suka itu sedang menghadirkan siapa di doanya. Karena hanya doalah yang bisa membuat cinta kita semakin barokah. Meskipun sekarang orang yang kita suka belum tau kalau kita mencintainya, atau apakah kelak ia akan berjodoh dengan orang lain ? ingatlah semuanya akan indah pada waktunya.

Nah, itu sedikit tentang cinta secara diam-diam. Semoga bermanfaat. Jangan lupa share dan baca artikel lainnya ya


Penjelasan Ilmiah Tentang Jatuh Cinta


Penelitian menunjukkan cinta cukup adiktif untuk otak, bahkan sering diibaratkan seperti kecanduan pada kokain atau heroin. Psikolog JoAnn Deak mencatat kesamaan  mekanisme kimia aktif antara cinta dan heroin.

"Perubahan kimia di bagian otak saat Anda jatuh cinta sama seperti yang dihasilkan oleh heroin atau kokain berdosis tinggi," ujarnya seperti dikutip dari The Daily Beast, belum lama ini.  Perubahan kimia yang paling mungkin terjadi yakni terkait pelepasan dopamin. "Seseorang akan kebanjiran dopamin misalnya pada saat memakan cupcakes, menggunakan senjata api, atau melakukan hubungan seks," kata Deak.

Dopamin adalah zat kimia alami yang dilepaskan oleh neuron dan dikirim ke neuron lain. Meskipun hal ini terdengar sederhana, namun setiap neuron dapat berkomunikasi dengan hampir 10 ribu neuron lain. Ada sekitar 100 miliar neuron di dekat otak manusia. Hal ini membuat manusia memiliki hampir 1.000 triliun jaringan koneksi.

Saat dopamin dilepaskan, baik itu oleh obat-obatan dan cinta, apakah keduanya berhubungan satu sama lain? "Panggilan cinta adalah kecanduan alami," ujar Deak.

Antropolog biologis Helen Fisher merupakan seorang peneliti senior di Institut Kinsey yang mempelajari cinta dan kecanduan. Pada 2014 ia menulis sebuah bab buku berjudul The Tyranny of Love. Menurut penelitiannya, scan fMRI menunjukkan bahwa perasaan romantis cinta terlibat intens dengan daerah otak di bagian sistem 'penghargaan' (reward).

Dopamin merupakan jalur yang terkait dengan energi, fokus, motivasi, ekstasi, dan keinginan, termasuk daerah utama yang terkait dengan kecanduan. Sistem reward adalah sistem yang menjadi aktif ketika Anda jatuh cinta. "Cinta yang romantis, kemudian menikah, dan saling memerlukan satu sama lain seperti haus dan lapar," kata Fisher.

Fisher menyamakan cinta dengan kecanduan, mengingat keduanya berbagi beberapa sistem otak yang sama. Fisher percaya, cinta bisa menjadi disfungsional. "Dugaan saya ada lebih banyak orang yang dipenjara karena cinta daripada kecanduan heroin. Gairah cinta dapat berubah menjadi gelap. Jika Anda jatuh cinta dan ditolak, bisa saja Anda bunuh diri, membunuh orang lain, atau mengalami depresi klinis.

Sebaliknya, cinta juga dapat menjadi kecanduan yang sangat indah. "Orang yang jatuh cinta memiliki komitmen seumur hidup dan mempunyai anak-anak," ujar Fisher. Mengingat dopamin dalam cinta diproduksi secara organik, Fisher menyebut cinta sebagai kecanduan alami, berbeda seperti penyebab eksternal dopamin yang dilepaskan dari obat-obatan seperti kokain.


references by

Minggu, 18 Oktober 2015

Perilaku & Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mandiri

Saat masih bayi, sangat wajar jika anak begitu tergantung pada ibunya. Maklum bayi belum bisa melakukan banyak hal. Tapi seiring usia bertambah, sudah seharusnya anak bertambah pula kemandiriannya sehingga tidak melulu bergantung pada orang lain.

Jika anak Anda sudah hampir masuk sekolah tapi belum bisa makan sendiri, tidak bisa memakai kaus kaki dan sepatu sendiri, serta selalu berteriak-teriak agar semua kegiatannya dibantu orang lain bisa jadi karena kurang mandiri. Anak yang kurang mandiri mungkin saja dikarenakan empat kesalahan orang tua berikut ini:

1. Orang Tua Tidak Percaya Pada Anak
Namanya juga anak-anak, tentu belum semahir orang dewasa dalam melakukan aneka kegiatan. Tapi sering kali orang tua begitu takut dan khawatir anaknya dalam bahaya sehingga aneka larangan selalu dikeluarkan.

"Misalnya anak yang baru lancar berjalan, mencoba berjalan lebih jauh lalu orang tua sudah bilang awas jatuh, dan awas-awas yang lain sehingga anak jadi ragu," kata psikolog anak dan remaja, Efnie Indrianie, MPsi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (16/10/2015).

Anak pun menjadi kurang dipercaya oleh orang tua. Ketimbang berteriak-teriak yang bikin anak ragu, sebaiknya orang tua membawa anak ke area yang relatif tidak berbahaya untuk anaknya belajar berjalan. Tapi pastikan anak selalu dalam pengawasan, sehingga bisa diarahkan tanpa membatasi upaya eksplorasinya.

Ketika anak sudah mulai masuk sekolah dan ingin menggunakan benda tajam, misalnya pisau untuk memotong buah, juga sebaiknya berikan kepercayaan. Mengajari anak menggunakan pisau bisa dimulai dengan menggunakan pisau plastik. Seiring bertambah usia dan anak sudah biasa diajak komunikasi dengan baik, baru bisa diberikan pisau betulan.

2. Menyalahkan Anak

"Salah kamu melipat selimutnya. Kalau gitu kan nggak rapi." Kalimat seperti itu mungkin sering dilontarkan orang tua kepada anaknya. Menyalahkan anak untuk hal-hal yang remeh-temeh seperti itu bisa mematikan kreativitas dan kemandirian anak.

Padahal anak sudah berinisiatif membersihkan dan merapikan tempat tidurnya. Namun karena yang diterima bukan apresiasi namun kalimat yang justru membuat semangatnya drop, anak jadi enggan dan malas melakukan kegiatan semacam itu.

"Anak 3-4 tahun sudah bisa dilatih untuk mandiri. Dari hal-hal yang simpel, misalnya dengan memberesi mainannya. Belajar melipat selimutnya. Kalau orang tua menyalahkan 'ah kamu nih, salah kalau gitu' malah bikin anaknya malas," tutur Efnie.

Agar kegiatan melatih kemandirian anak berjalan dengan baik. Sebaiknya Anda ikut melakukannya bersama anak, di awal-awal mereka belajar. Misalnya dengan mengajak anak bersama-sama membereskan mainan. Beri tahu anak, mainan yang sudah selesai dimainkan harus dimasukkan ke tempatnya, misalnya ke dalam kardus. Informasikan kepada anak kardus mana yang jadi tempat mainan. Selanjutnya anak akan terbiasa untuk merapikan sendiri mainannya.





3. Tidak Sabar

Sering kali orang tua tidak sabar dengan proses belajar yang harus dilewati anak. Karena ingin cepat, orang tua cenderung mengambil alih sesuatu yang seharusnya dilakukan anak. Sehingga anak tidak punya pilihan, tidak punya kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk mengambil keputusan.

"Misalnya karena anak lama saat membereskan mainan, ibunya langsung bilang 'sini mama yang beresin', atau misalnya anak lama saat sedang memakai sepatu 'sini cepetan bunda saja deh yang pakaikan," kata Efnie yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung ini.


4. Enggan Melatih Kemandirian Anak

Anak jadi penakut, harus selalu dekat dengan orang tuanya, dan cenderung tidak bisa melakukan aneka hal karena orang tua yang enggan melatih kemandirian anak. Misalnya orang tua yang khawatir anaknya terluka atau hilang saat jalan-jalan, atau mungkin malas repot, tidak akan membiarkan anaknya sedetikpun lepas dari gandengannya.

Padahal anak-anak dengan jiwa petualangannya justru ingin mengeksplorasi tempat baru. Karena itu, sebaiknya saat anak diajak ke tempat baru baginya, misalnya mal, diceritakan lebih dahulu mal yang akan dikunjungi seperti apa. Mungkin orang tua bisa memperlihatkan foto tentang mal itu atau menggambarkan kondisinya.

"Kadang persiapan orang tua saat akan mengajak anaknya bepergian itu kurang sehingga anak mengadaptasi dengan caranya sendiri, sehingga di lokasi muncul perdebatan orang tua dan anak," tutur Efnie.

"Kalau sudah diinfokan lokasi yang akan dikunjungi seperti apa, akan lebih mudah bagi orang tua dan anak. Bisa diberi tahu juga, karena masih kecil jadi harus selalu dipegang oleh orang tuanya. Tapi kalau sudah besar bisa tidak gandengan lagi. Anak akan belajar dan mengingat. Jadi bukannya dilarang untuk eksplorasi," imbuh Efnie.




references by