Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Biografi dan Profil Ayana Jihye Moon

Ayana Moon, sosok gadis cantik yang baru-baru ini mendadak menjadi viral dikalangan pengguna sosial media. Berasal dari negeri gingseng Korea Selatan, Ayana Moon justru tak tampil seperti artis atau idola lainnya.

Dunia Korea yang dikenal dengan pakaian serba minim ternyata sama sekali tak terdapat pada Ayana Moon. Gadis dengan wajah yang tak kalah cantik dengan girlband Korea ini justru muncul dengan tampilan santun, bahkan berhijab.

Hidup dikalangan yang kebanyakan bukan muslim, Ayana Moon muncul dan mengikrarkan diri sebagai mualaf asal Korea. Setelah mengunggah potret-potret cantiknya,  Sejak awak kemnculannya hingga kini Ayana Moon telah mengantongi 29.000 ribu followers. Saking hitsnya, para penggemar pun membuat akun baru yang terdiri dari seluruh penggemar Ayana Moon dari berbagai negara.

Gadis kelahiran 28 Desember 1995 ini membuat keputusan menjadi mualaf sekaligus satu-satunya muslim di keluarganya. Ayana Moon pun diketahui telah memeluk agama Islam sejak ia masih duduk dibangku SMA.


Sebagai seorang muslim yang hidup dikalangan penduduk yang tak akrab dengan konsep keagamaan seperti Korea membuat Ayana Moon sedikit kesulitan, maka dari itu ia mengaku bahwa ia tak selalu mengenakan hijab dikehidupan sehari-harinya.

Mendadak menjadi selebgram, Ayana Moon mengaku kaget karena menurut dirinya ia hanyalah remaja muslim biasa. Bahkan ia pun memiliki idola salah satu boyband Korea yakni TVXQ. Dirinya pun mengatakan bahwa dirinya tak terlalu suka diperlakukan seperti idola.

Menurut Ayana Moon semua yang mengaku sebagai fansnya adalah teman baginya, “Aku selalu senang mengenal kalian, teman-temanku. Kalian bukan fansku. Kalian adalah TEMAN bagiku, Oke ?,” tegas Ayana Moon disalah satu balasan komentar.

Melihat kebanyakan selebritis yang tak menanggapi haters, Ayana Moon justru merupakan sosok yang sangat berani dengan haters. Ia pun tak segan-segan membalas komentar haters yang menghina pilihannya untuk berhijab.

Pada beberapa hari terakhir ini dunia maya sempat dibikin heboh, pasalnya ada seorang mualaf remaja putri yang berasal dari negeri gingseng Korea yang mengunggah foto-foto selfie di akun instagramnya. Gadis berparas cantik jelita ini, bukan sekadar selfie biasa, bukan karena dia anggota girlband K-pop, tetapi karena terlihat santun dengan penampilan hijab, seolah memproklamirkan dirinya pada dunia tentang keislamannya. Perempuan jelita ini bernama Ayana Jihye Moon (20), dirinya mengungkapkan identitasnya sebagai mualaf dan berpenampilan mengenakan hijab.

Dirinya mengakui kalau pada saat ini tidak selalu memakai hijab, disebabkan budaya Korea sangat asing terhadap konsep keagamaan yang bikin sulit bagi pemeluknya dengan menggunakan sebuah atribut keagamaan. Di Korea penganut Islam hanya mencapai 1% dari 50 juta penduduknya, termasuk Ayana yang merupakan satu-satunya pemeluk Islam di lingkungan keluarganya.

Tanggapan orang-orang Korea dengan keislamannya, Ayana mengatakan bahwa orang-orang Korea tidak begitu peduli dengan agama Islam tapi mereka menghormatinya, meskipun kenyataannya ada saja orang-orang Korea yang Anti Islam. Walaupun sebagian orang ada yang benci, dirinya memastikan bahwa orang-orang tersebut tidak akan menghina dan melakukan penyerangan. Perempuan berhijab dengan nama panggilan Ayana ini dikabarkan akan menempuh perguruan tinggi di Universitas Islam Malaysia untuk mempelajari Islam secara mendalam. Terlihat jelas dengan paras cantiknya, serta sangat bangga memakai hijab yang merupakan penegas atas identitas sebagai muslimah.

















AKUN INSTAGRAM RESMI  instagram.com/xolovelyayana














references by:
http://adfoc.us/30410156370292
tempo, sindonews

Rabu, 16 September 2015

Kenapa Ramai Hashtag #IStandWithAhmed ?

Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang ditangkap polisi di Texas, Amerika Serikat, karena membawa jam buatan yang dikira bom, mendapatkan dukungan lewat media sosial dengan tagar #IStandWithAhmed.


Ahmed Mohamed mengatakan kepada media Amerika Serikat bahwa ia membuat jam dan membawanya ke Sekolah Menengah Atas MacArthur di Irving untuk diperlihatkan kepada guru teknologi.


Guru lain melihatnya dan khawatir jam itu seperti bom dan memberitahu pihak berwenang sekolah yang segera memanggil polisi.





Ayah Ahmed mengatakan insiden itu terjadi karena agama mereka.

Dukungan untuk Ahmed mengalir di media sosial dengan tagar #IStandWithAhmed yang disinggung sekitar 50.000 kali, Rabu (16/09).

Akun @dulsetsabr, antara lain, menulis,
"Islamfobia terjadi. Ini mengkhawatirkan. #IstandWithAhmed" s

Sementara Wajahat Ali, @WajahatAli menulis,

 "Sebagian besar anak-anak yang membuat jam dalam waktu 20 menit akan disambut sebagai Jimmy Neutron.
Anak Muslim? Berpotensi membuat bom. Sedih. #IStandWithAhmed."

Dewan hubungan Amerika-Islam mengatakan mereka tengah menyelidiki insiden itu.
Dipanggil kepala sekolah dan polisi

Ahmed Mohamed mengatakan kepada Dallas Morning News ia menggemari robot dan teknologi dan ingin menunjukkan kepada gurunya kemampuannya.

Ia mengatakan bahwa guru lain melihat saat jam itu berbunyi pada saat pelajaran.

"Dia mengatakan itu tampak seperti bom," kata Ahmed

"I told them it's a clock. And they told me, 'Why would you bring a clock to school?' And I was like to tell time. And the officer said, 'There's clocks here, clocks here, clocks around you everywhere.' And I told him that I wanted to impress my teachers so that I could feel appreciated for it, but instead I got the police called on me," he said.


Gurunya menyimpan jam tersebut dan kemudian ia dipanggil oleh kepala sekolah dan empat polisi.

Ia juga dilaporkan diskors dari sekolah selama tiga hari.

Juru bicara polisi James McLellan mengatakan pada saat wawancara, Ahmed menekankan ia membuat bom namun mengatakan remaja itu tidak bisa "memberi penjelasan lebih lanjut" soal penggunaan jam itu.

Pihak sekolah tidak berkomentar namun mengatakan dalam satu pernyataan, mereka, "selalu bertanya kepada siswa dan staf untuk segera melapor bila melihat ada sesuatu atau ada tingkah laku yang mencurigakan".

Ayah Ahmed, Mohamed Elhassan yang berasal dari Sudan mengatakan putranya, "hanya ingin menciptakan sesuatu yang bagus, namun karena namanya Mohamed dan karena kejadian 11 September maka putra saya mendapatkan perlakuan tak layak."


Dewan Hubungan Amerika-Islam mengatakan kecurigaan ayah Ahmed mungkin tepat.

"Saya rasa hal ini tidak akan dipertanyakan bila namanya bukan Ahmed Mohamed," kata Alia Salem, dari dewan setempat.

"Ia adalah anak yang menyenangkan dan pintar yang ingin menunjukkan karyanya kepada guru-gurunya."



Menulis di akun Twitter-nya Obama menyebut jam buatan Ahmed "keren", sambil berkata seharusnya lebih banyak anak yang menyukai sains seperti Ahmed.

Markz Zuckerberg juga membuat status di facebooknya


You’ve probably seen the story about Ahmed, the 14 year old student in Texas who built a clock and was arrested when he...
Posted by Mark Zuckerberg on Wednesday, September 16, 2015


Hari Senin (14/09) waktu setempat, Ahmed diinterogasi polisi karena jam buatannya yang ia bawa ke sekolah disangka bom rakitan.

Ahmed membawa jam itu ke sekolah dan memperlihatkannya kepada guru teknologi.

Guru lain melihat jam tersebut dan mengiranya sebuah bom rakitan, lalu memanggil polisi, hingga akhirnya Ahmed ditangkap dan ditanyai polisi


Ahmed Mohamed (14) yang tadinya kebingungan dituduh teroris berawal dari dirinya bikin tugas sebuah karya jam digital untuk tugas teknologi di tempat dirinya menutut ilmu, oleh rekan gurunya malah dilaporkan ke kepolisian karena bocah tersebut dituduh bikin bom. Dia akhirnya ditahan beberapa jam di unit kehajatan anak, namun kembali di bebaskan karena tidak terbukti bersalah.

Seperti yang diberitakan telah lalu, menurut orang tuanya, anak itu hanya menyenangi sains dan pada tugasnya untuk mata pelajaran teknologi itu hendak menyuguhkan kepada gurunya sesatu yang bagus. Setelah diperiksa, kasus Ahmed diteruskan sebab, dikatakan orang tuanya, dia adalah seorang muslim dan bernama Ahmed Mohamed serta selain itu bisa jadi akibat dari kejadian 11 September bikin Islamofobia. Ahmed yang belajar di SMA MacArthur pun di Skor selama 3 hari.

Ayah Ahmed, Mohamed Elhassan asal Sudan mengatakan putranya, "hanya ingin membuat sesuatu yang bagus, tapi karena namanya Mohamed dan karena kejadian 11 September maka putra saya mendapatkan perlakuan tak layak."
Dewan Hububungan Amerika-Islam mengatakan kecurigaan ayah Ahmed mungkin tepat.

"Saya rasa ini tidak akan dipertanyakan bila namanya bukan Ahmed Mohamed," kata Alia Salem, anggota dewan setempat.




references by
http://adfoc.us/30410156357753

 http://adfoc.us/30410156370280